Kesempurnaan dan Kehidupan



Dulu saya termasuk orang yang mengagung-agungkan suatu hal yang tampak sempurna, yang depan nya saya lihat sempurna pastilah belakangnya sempurna tak ada pengecualian. Setiap saya melihat hal yang sempurna otak saya akan mengabaikan pepatah TIDAK ADA YANG SEMPURNA DI DUNIA INI. Saya tidak akan mentoleransi ketidaksempurnaan.

Lalu bayangan saya tentang kesempurnaan menjadi semu saat saya tau saya tidak sedang dalam kesempurnaan, saya marah, benci, kecewa, menangis, menyalahkan semua hal, saya tidak bisa menerima bahwa bayangan saya menipu.

Rasa tidak terima ini selalu terulang, bahkan saat kesempurnaan ini datang dan berjanji akan selalu sempurna, saya sudah tidak percaya, yang tersisa hanya rasa was was dan amarah. Mendiamkan, bagi saya itu lah jalan keluar terbaik, walaupun kadang saya harus berhenti untuk menangis dan marah-marah.


Sampai di satu titik saya menyadari kesempurnaan itu adalah ekspetasi saya terhadap kehidupan. Ketika kehidupan menceritakan yang sesungguhnya saya tak sanggup menerima nya, saya yang hanya berpegang terhadap kesempurnaan mulai jatuh. Bangkit pun terasa susah.

Ekspektasi yang berlebihan membunuh saya. Menganggap semua hal diluar ekspektasi saya adalah kesalahan. Kenapa begini? Kenapa begitu? Lalu perlahan kehidupan mulai mengajari saya, mengingatkan saya bahwa TIDAK ADA YANG SEMPURNA DI DUNIA INI. Berilah toleransi, rendahkan ekspektasi mu, ini cerita ketidaksempurnaan yang harus dijalani.

Mulailah saya berdiri, walau terkadang masih dipenuhi rasa kecewa saya mulai menikmatinya. Saya mulai merendahkan ekspektasi saya terhadap kesempurnaan dan menerima ketidaksempurnaan. Saya berhenti membandingkan kesempurnaan di dunia ini dan mulai menatap kehidupan. 

Bukan kah kehidupan ini tentang ketidaksempurnaan?

Komentar