Kuciwa
Pagi saya diawali dengan rasa kuciwa. (baca : kecewa) Dimulai dari seorang kawan dari adik saya yang minta tolong pada saya agar mau mendokumentasikan acara besarnya, saya bilang oke sambil menerangkan bahwa kemampuan dokumentasi saya nggak sebagus para profesional. Walau sedikit khawatir dengan kemampuan saya, saya senang karena saya bisa menunjukkan kemampuan saya dan membantu kawan baik adik saya ini. Sejak semalam adik saya mencoba bertanya mengenai kepastian jadi nggak nya saya membantu mendokumentasikan acara tersebut, tapi mungkin kawan adik saya sedang sibuk mempersiapkan acaranya sehingga tak ada respon sama sekali. Saya sendiri deg-degan besok bagaimana ya walau saya ragu, karena tak ada kabar tentang harus bagaimana nanti saya disana.