Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2015

Ter(paksa)biasa

Hal yang paling menyeramkan (bagi saya) selain kesepian adalah terbiasa. Saya adalah seseorang yang terbiasa hidup bersama-sama. Makan, tertawa, berbagi cerita. Dari jaman SMP  sampai kuliah saya selalu punya geng beranggotakan banyak orang. Yah, walaupun sekarang saya sudah jarang mendengar kabar mereka. Bagaimana rasanya ketika kita terbiasa hahahihi bareng-bareng tiba-tiba selalu sendiri? Rasanya aneh. Perasaan saya sempat kacau (a.k.a galau), saat saya menyadari saya telah "ditinggal" sendiri. Hitungan minggu saya berjuang, bertanya tanpa henti. Hingga saya memutuskan berhenti bertanya. Bukan berhenti peduli, namun karena tiba-tiba saya menjadi akrab dengan keadaan. Ketika keadaan memaksa kita berubah, akan selalu ada perasaan yang terkoyak. Lama kelamaan ketika kita telah kebal pada keadaan, yang ada kita akan terbiasa. Yang menakutkan adalah ketika kita sudah terlalu terbiasa, keadaan membawa kita untuk terpaksa terbiasa dengan yang lain lagi.

Makasi Geng

Dalam beberapa jam saya sudah bisa nulis beberapa postingan sekaligus, hemmm kemampuan menulis saya ini memang memang mood-moodan pembaca. Apalagi kalau pikiran baru penuh. Lancar banget deh yang posting cerita HAHAHAHA Saya mudah memikirkan segala hal. Berjam-jam berhari-hari sampai sesak hati adek bang. Solusi nya adalah menceritakannya pada orang terpercaya saya atau menuliskannya diblog ini misalnya, atau bahkan di buku tulis yang tersimpan di lemari. Jadi kalau orang sakit perlu istirahat, saya butuh tempat bercerita, berbagi. Setelah saya selesai bercerita, rasanya Fiuhhhhhhh beban berat terangkat. Esok pagi disambut dengan lebih ceria. Burung-burung bersahutan bersiulsiul. Itulah pentingnya tempat berbagi. I feel better.

Lari...lari...tiap hari

Seberapa sering saya ingin melarikan diri saat ada masalah? SERING NGGER SERINGGGGGGG *nangis rame-rame* *bergandengan tangan bareng pelari* Saat saya melakukan kesalahan -yang ternyata setelah dicek gak ada yang salah- pertama yang pikirkan adalah "Udahlah, ai mau pergi ajah, mau keluar ajah Gusti". Degdegannya itu loh ngger. Saya adalah Pemalu dengan rasa gengsi yang tinggi. *Dwuohhhhh* Saya bukan orang ndableg yang kalau ditegur didepan umum, bisa cengar-cengir. Ngebayangin saya ditegur di depan umum saja saya bisa sedih. Saya lebih malu lagi memikirkan pandangan orang terhadap saya. Terkadang saya ingin meng- skip hari untuk melewati masa degdegan saya itu. Walaupun setelah dihadapi ternyata "Bok, cetek amat bok" *elap keringet* *keringet mas-mas brewok pemain drama turki Cinta Elif* Saya harus berlatih menghadapi masalah, bukan melarikan diri. Sekalipun masalah itu di depan umum harus saya hadapi. Peduli setan pikiran orang pandangan orang. Oke. ...

Untuk Kedua Kalinya, Saya Jatuh Cinta.

Usia saya saat ini adalah usia rawan bertengkar dengan orangtua. Pertengkaraan kami bukan lagi pertengkaran masalah kecil-kecil seperti jaman sekolah dulu. Pertengkaran kami mungkin lebih kearah prinsipil (heciyeh udah gede ajah). Jangan bayangkan kami bertengkar saling melempar piring, gelas, telenan, lemari atau bahkan bambu runcing sambil pake koteka di tengah padang. Jangan. Pertengkaran kami lebih seperti perdebatan, musyawarah yang kadang jika satu pihak tidak terima maka dia akan lebih memilih mendiamkan. Pada suatu waktu saya pernah berdebat dengan Ayah saya dengan dramatis *ala-ala sinetron*. Ayah saya adalah seseorang yang sangat takut kehilangan waktu dengan anak-anaknya sehingga saat anaknya "jauh" sedikit beliau akan terjatuh tak bisa bangkit lagi dan jadi butiran debuuuuuuuuuu. Dan pemegang teguh prinsip yang kadang aneh. *ampuni aku Pak Bos* Ibu saya adalah wanita yang paling tangguh. Jika saya dan Ayah akan menangis menahan sakit sambil bergandengan ta...

Beri saya judul kak KAK KAK...........

Hai hai hai hai blog akuh, pembaca akuh *disambut laba-laba* Nggak saya nggak mau minta maaf karena kelamaan gak nengok blog. Saya udah keseringan minta maaf HAHAHAHA *sombong* Beberapa bulan ini saya lagi sibuk, berangkat pagi pulang sore lanjut nonton tipih terus tidur, padahal pingin ngeblog lagi huhuhu. Padahal setiap saat saya selalu punya banyak ide buat ditulis, tapi kok ya saya males nyalain laptop buat nulisnya. Gusti.... Anyway, beberapa minggu yang lalu saya baru ke jogja, nengok adek saya yang kuliah disana. Saya sama adek cewek saya, Ais naik kereta dari stasiun Balapan Solo ke Lempuyangan, ambil tiket kereta pagi. Pas pulang, karena kesorean saya harus antri tiket kereta, beruntung sih saya sama adek dapat antrian agak depan. Tiba-tiba ada ibu-ibu separuh baya yang masuk ke antrian di depan kami, berdiri dua barisan di depan kami dengan cueknya. Pertama saya kira ibu itu saudara dari mbak-mbak mahasiswa yang mengantri di depan kami, tapi perlahan-lahan mbak-mbak...

TET TET TERET : ANAK PASAR

Hampir tiga bulan saya jadi anak pasar hihihi Anak pasar dalam arti sesungguhnya. Bukan, saya bukan anak pasar seperti Pasar santa yang heitssss banget itu. Saya anak pasar yang ikut jualan terus ngitungin dagangan, sambil ngobrol-ngobrol hebring dengan ibu-ibu bapak-bapak mas-mas mbak-mbak pasar yang hobinya nyemil buah nangka sambil menertawakan keadaan pasar yang sepi macem kuburan. *digiles bos-bos pasar* Jadi, bagaiman rasanya hidup di pasar? BOK BEDA BANGET BOK!!!! Anak pasar. Begitulah saya menyebut saya saat ini.

Berhenti Mencari....Alasan

Seberapa sering kamu membuat alasan ketika seseorang menanyakan suatu hal yang kamu bahkan tak tahu jawabnya? Saya? hmmm ssepertinya sering. Ketika saya memutuskan suatu hal, banyak orang akan bertanya "Kenapa kamu melakukan hal itu?" lalu saya yang juga tidak paham akan menciptakan ribuan alasan yang setelah saya ucapkan saya merasa "Ish, serius nih fit?" Semisal, baru-baru ini ketika saya memutuskanmelakukan sutu hal, banyak yang menyayangkan keputusan saya sambil bertanya "Kenapa?" lalu mengatakan hal-hal yang membuat saya akan berfikir ulang tentang keputusan yang saya ambil. Kamu kamu kamu, tau ndak saya aja gak tau kenapa saya begitu. Tumbuh dewasa maka saya semakin paham bahwa banyak orang dewasa yang sering menanyakan alasan mengenai satu dua atau banyak keputusan yang diambil orang lain. Tiba-tiba saya rindu masa kecil, waktu saya melakukan apapun tanpa dikelilingi pertanyaan orang-orang tentang alasan alasan dan alasan (atau mungkin or...