Racauan di tengah malam
Seperti biasa, saya kembali ke blog ini jika pingin nulis lagi setelah sudah cerita curhat tapi ngga beres juga hati ini.
Jadi di 2022 ini tak disangka tak diduga mendadak dangdut saya punya pacar dan sat set sat set tiba-tiba kami merencanakan menikah. Padahal ya padahal belum pernah sekalipun dia ngajakin saya nikah *saddd* tapi ya memang dari awal saya memutuskan membuka hati jiwa raga untuk mengenal dekatnya pembicaraan soal pernikahan sering terlontar karena harapan saya mending tahu di depan sekalian baru biar lebih enak belakangnya. Jadi sebelum pacaran kami selalu memakai pengibaratan seandainya nanti kami sampai menikah begimana bla bla bla
Menyadari "kedewasaan" hubungan kami yang membicarakan pernikahan tanpa dilandasi ajakan pernikahan saya sedikit merasa kemana nih romantisme dan spontanitas pacar ue, tapi yang memang dia tipe diam diam saja tidak sat set jadi tidak usah mengharap apa apa bestie *membuang harapan harapan*
Masalahnya adalah sebelum dekat dengannya pernikahan bukan sesuatu yang saya tunggu dan harapkan, jadi ketika saya bertemu dia dengan berbagai perdebatan kami (lebih tepatnya saya yang mengajak berdebat) ada perasaan excited dengan hal baru tapi didominasi perasaan cemas luar biasa untuk memulai hal baru. Nanti nikah itu bagaimana ya, membayangkan meninggalkan rumah, Solo, orang tua dan saudara2 saya saja seringnya membuat saya menangis ngga karuan, mood anjlok, overthingking lalu menjadi bara permulaan pertengkaran kami yang ditutup dengan dia memberi semangat "AYO KAMU BISA, KITA BISA" yang saya jawab dengan mbuhlah ya Allah ra mudeng aku wis.
Ditambah dengan kami menjalani hubungan LDR *tarik nafas* dan jam kerja yang berbeda yang dulu awalnya saya sepelekan "ah LDR mah kecil, beda jam kerja juga oke aja" ujar si gadis angkuh ini yang lalu sering ingin menyerah menghadapi LDR *astaghfirullah misuh misuh misuh.
Kami bertemu sebulan sekali, saya kerja pagi sampai sore, dia sore sampai malam. Saya berusaha semaksimal mungkin membalas chatnya di sela jam kerja saya karena saya tahu di malam hari dia lebih slow respon dan kemungkinan besar saya sudah tertidur saat dia selesai bekerja dan saya tahu dia juga berusaha semaksimal mungkin membalas chat saya di malam hari atau sekedar mengirimkan pesan selamat tidur kalau chat chat nya tidak saya balas karena ya tentu saya sudah tidur baginda.
Dulu menyenangkan sekali saat dia berusaha selalu membalas pesan saya di jam kerjanya yang puadat itu lalu jreng jreng berubah, ya namanya sudah jadi pacar. Sekarang mari bersabar dengan kemampuan multitasking beliau yang menurun 🙂
Pertengkaran kami pun sebenarnya masalah sepele karena alat komunikasi kaum kaum ldr ini hanya hape permasalahan umum yang terjadi adalah seling surup alias salah paham.
Akhir akhir ini sudah janjian malam minggu telfonan atau video call tapi gagal lalu dia asik nonton bola, saya-nya kadung menunggu kabarnya dengan komunikasi putus nyambung ya jadi males ya ane ya. Tentu beda dengan saat pedekate mau telfonan sampai malam dijabani dicari cari waktunya. Ckckckck kaya bocil sekolahan kan.
Diluar itu dia adalah pria baik yang sayang keluarga dan sayang saya walau ngeselin, tidak sat set, tidak peka tapi saya rindukan tingkah lucunya saat pedekate
Komentar
Posting Komentar